To My Partner.

The day is coming. It’s 29 of August that we spent every years to celebrate it. It’s 4th time you know? It’s very wonderful journey that i have since i had you. I did’nt describe with many words, how means you  to me. I believe i can’t through the rain if you not there. I can’t imagine , how’s life without your support and advice, although, sometimes we not sure for each other, but the result we can learn from each other. We understanding each other, till now, and maybe for further many years. I’m not romantic. I can’t be sweetest. But i can write in blog who you made for me. I wish we can through many rain with smile and tears together. Happy anniversarry, sunshine.

Continue Reading

(Don’t) Worry

Halo peeps! Lama tidak berjumpa di blog atau website ini! Apa kabar semua? Semoga hari kalian menyenangkan. Menghabiskan waktu 1 1/2 bulan di Semarang untuk magang, it was fun. Walaupun sebenernya banyak hal-hal yang membuat aktivitas permagangan agak jadi tegang, mulai dari dimarahin atasan, deadline laporan, dan segala hal yang membuat hari-hari jadi males buat magang, tapi permagangan ini mengajarkan sesuatu yang berharga. Dimana kita harus bisa menghargai waktu, tenaga , pikiran, disamping itu juga kita bisa berinteraksi dengan banyak orang, dan berlatih bekerjasama dan mengerjakan tugas dengan baik dan sesuai deadline. Akan jadi pengalaman berharga buat kita nantinya saat kita benar-benar terjun kelapangan kerja yang sebenarnya. Jadi nggak akan kaget gitu.

1 1/2 bulan di Semarang membuatku betah disana dan nggak merasa homesick. Padahal kalau dipikir lagi jarak Semarang dengan kampung halamanku cukup dekat. Rindu rumah?? Jelas. Tapi ada satu yang aku rasakan ketika di Semarang jauh dari orang tua: Rasa worry berlebih ketika dirumah.

Aku merasa kalo disemarang itu rasa worry tentang keuangan , masa depan , dan lain-lain bener-bener  ga ada. I feel like im optimism, feel confident, enjoy, dan yang jelas kaya selalu ada semangat yang ngebuat hari-hariku terpacu dan rasanya nggak punya masa depan suram. Mungkin faktor yang ngebuat aku merasakan hal-hal itu adalah adanya temen-temen yang senasib sama aku, jadi rasa khawatir kita ga sukses atau ga bisa bahagiain orang tua kita itu nggak ada sama sekali. Because the supporter is always behind us. Kita berjuang bareng-bareng diperantauan dan rasa semangat untuk mengejar masa depan cemerlang selalu ada.

Kenapa selalu worry kalau aku pulang kerumah??? Maybe , this content direct to private context, but i wont to explain, so i’d be to discuss the general things that we always found on it.

Worrynya ajalah , misal kita dirumah, kita mendapati orang tua kita pada saat kita pulang itu lagi minim keuangannya sedangkan kebutuhan hidup sangat sangat banyak, lalu kita akhirnya worry “bisa nggak yaa, aku besok punya gaji yang bisa menutup seluruh pengeluaran dan yang jelas bisa nabung?”

Ketakutan selanjutnya adalah ketika dirumah aku sendiri suka mikir , dengan keadaan orang tua ketika mereka lagi “minim” , aku yang bentar lagi lulus, dan bekerja , bisa nggak ya membantu dan menghidupi diriku sendiri jika suatu saat aku ditempatkan pekerjaannya dikota kelahiranku?. Karena dari cerita-cerita tetangga yag udah kerja terutama, dia lebih seneng kerja diperantauan timbang kampung halaman, karena apa ? Doi nggak bisa nabung untuk dirinya sendiri dan untuk jatah keluarganya, yang ada dia yg ngurus seluruh keperluan rumah yang masih jadi tanggung jawab orangtua, jadinya dia tidak bisa mempersiapkan tabungan buat masa tua. Ada lagi yang memilih nggak pulang karena dia takut bakal sedih kalau pulang lihat keadaan orang tua yang lagi susah, dan iba jadinya malah sedih dan khawatir “bisa nggak ya aku menuntaskan segala kesusahan mereka?”

Keworry worryan inilah yang sebenernya lagi aku pikirin mateng-mateng. Sebenernya boleh nggak si aku worry masalah madesu? Kenapa worry itu cuma dateng disaat aku pulang kerumah, dengan melihat keadaan sekitar rumah, sedangkan waktu disemarang sama sekali rasa khawatir itu ada. Pernah juga kepikiran waktu liat orang tua, bisa ga ya bapak nikahin aku sesuai dengan ekspektasiku tentang pernikahan? Atau bisa nggak ya aku mencukupi kebutuhanku sendiri sekarang tanpa tergantung orang tua lagi?

Aku ngerasa diumurku yang udah nggak remaja lagi, khususnya menuju umur 22 itu semakin banyak hal yang dipikirin. Diri ini juga semakin berubah menjadi dewasa, dan nggak gampang ngambil keputusan. Diri ini juga punya sejuta mimpi dimasa depan, yang pasti semua orang punya. Apa kah aku yang masih mahasiswa ini memang harusnya tinggal jauh dari orang tua agar aku punya self empower yang bisa memacu diriku sendiri untuk bisa berkembang? Karena pada dasarnya kalau dirumah, kita hanya fokus ke keuangan keluarga aja, tanpa tau ada hal lain lho yang harus dipikirin. Ga cuma urusan duit duit duit. Pastilah seorang manusia, siapa si yang nggak worry tentang masa depannya mau jadi apa dan kaya gimana, tapi asal yakin dan mantap dengan pilihan yang sudah kita ambil insyaallah, ada aja rejekinya

Continue Reading

Pertemanan

Selamat malam. Dihari ke 27 ramadhan, blog ini akan diisi dengan salah satu tulisan sensitif, bersifat pribadi, dan emang jarang-jarang diutarain ke orang lain. Memang fungsi sebuah blog, umumnya untuk share pengalaman atau pikiran ke orang lain. Tapi fungsi lain blog, yaitu tempat curhat. Dimana pada saat manusia tidak bisa mendengar apa yang kita rasakan, blog ini tempatnya. Konten sesuai judul yang dibuat adalah konten random yang disarankan oleh seseorang sebut saja Hurri, karena beberapa jam tadi aku berkeluh kesah ke dia mengenai “pertemananku” yang mulai acak adul. Dan bisa dibilang “me have no friends“. Kenapa bisa aku bilang seperti itu???

Jadi awalnya gini , aku ngerasa dari awal aku hidup didunia dan memulai kegiatan sosialku dengan bersekolah dan memulai menjalin hubungan dengan banyak orang, rata rata aku cuma punya temen deket waktu mulai TK mentok-mentok 2. Ga everlasting, akhirnya ganti lagi waktu SD itupun ya cuma 2, begitu lanjut SMP, aku ngerasa lingkar pertemananku banyak. Aku SMP punya banyak circle, bahkan sampe ngerasa aku bisa akrab ke semua orang karena punya circle A, B, C. Tapi beranjak ke masa-masa akhir SMP, circle itu mulai berkurang yang tadinya banyak jadi cuman 2, dan parahnya setelah lulus SMP circle itu mendadak ilang dan menyisakan 2 orang sahabatku, yang sekarangpun, hari ini, aku merasa udah mulai kehilangan mereka pelan-pelan. Yang satu udah nikah. Satunya lagi berada jauh dari tempat aku kuliah, yang akhirnya dia udah punya lingkaran pertemanan baru.

Beranjak dari SMP ke SMA , nah ini. Complicated. Awal masuk SMA , temen baru dong? Temen?? Cuma 1, dan beda kelas. Akhirnya adaptasi lagi. Berteman dengan lingkaran baru. Banyak banget lingkarannya. Circle 1,2,3,4,5. Circle 1 gagal. Karena aku ngerasa nggak cocok dengan orang-orangnya. Circle 2 , cuma bertahan dikelas X , abisnya bubar. Circle 3, circle yang isinya anak-anak biasa aja dikelas. Aku cocok. Tapi aku ga bisa sediem itu. Aku msh butuh hangout masih butuh ngehadirin acara acara yang semisal buber angkatan, tp circle 3 ini anak-anaknya sulit buat diajak seru-seruan istilahnya. Circle 4, isinya cewek cewek, ketemuan di momen tertentu tok. Kita nggak deket-deket banget tapi ya bisa lah diajak ngobrol chit chat,sekedar nongki. Bisa, tapi aku nggak menemukan esensi saling membutuhkan. Circle ke 5, isinya campuran cowok dan cewek. Tapi disini, tbh, i can’t be totally be my self. Karena di circle ini aku cuma bisa diem, dengerin mereka cerita, ikut ketawa kalau lucu. Tapi ya di circle ini tetep ngerasa nyaman aja, walaupun yaa cuma bisa diem. Istilahnya nggak berbuat apa-apa.

Masuk kekuliah setelah pisah dari semua circle tadi, aku adaptasi dong. Dari hasil adaptasi itu yang aku temukan adalah cuma 1 orang yang aku anggep cocok. She’s can accept me as i am. Aku bisa jadi diriku sendiri , cerita apapun, pokoknya totally be original me. Cuman, si temen ini hanya bisa nemenin aku waktu di Semarang aja.

Beberapa jam yang lalu i realize that, i never have once of pieces of friend anymore. Tepatnya waktu salah satu ibu dari temenku yang meninggal, aku nggak tau mau hubungin siapa buat diajakin layat bareng karena ya ga ada temen deketku yang ada disini. Aku sampe bingung siapa. (Soalnya emang kebetulan juga musim mudik, akupun mau mudik besoknya). Dan ternyata sadar kalo aku bener bener nggak punya temen sama sekali.

Apalagi yang semakin bikin sakit adalah, di WA story, rata rata story dikontak Whatsappku adalah mereka yang abis buber sama temen SMPnya lah, SMAnya, sahabat-sahabatnya, geng pertemanannya. And me? Alone. With my gadget on my hand. Terkadang iri gitu, kok bisa mereka bisa punya circle yang sangat sangat bisa diajak reunian. Kenapa aku nggak bisa punya temen yang bisa diajak reunian? What’s wrong??? Why nobody care bout me? 

Pertanyaan yang sering muncul di kepalaku tiap kepikiran tentang pertemanan adalah

Apakah orang orang disekelilingku merindukan keberadaanku?

Isn’t me have a benefit to them?

Kenapa aku nggak bisa punya circle buat sekedar diajak reuni? Why? Who’s wrong?

Momentum kaya gini emang pas buat jadi bahan refleksi si. Seberapa jauh arti kita dimata orang lain. Seberapa pentingkah kita di kehidupan sosial. Karena aku pribadi merasa temen aku sekarang kemana mana cuman 2 , 1 si hurri. 2 si temen aku dikuliah itu. Kenapa circle-circle yang kemarin aku bangun tidak menghasilkan hubungan saling ketergantungan dan membutuhkan. Akukah yang salah?

Continue Reading

Ngomongin Sexual Harassment

What a long time. Udah lama banget rasanya tidak ngeblog seperti ini. Bahkan bulan Mei kemarin aja bener-bener sama sekali nggak menuangkan apa-apa dilaman blog ini. Alasan yang paling klise adalah kuliah. Kuliah di semester tua , khususnya semester 6 emang super sibuk. Banyak tugas, semisal nyiapin paper untuk proposal skripsi, cari judul, dan juga paper-paper yang lain yang jelas bikin hectic yang pernah aku tulis di sini. Semua kegiatan perkuliahan yang menyita waktu, sampai untuk menyempatkan buat sekedar curhat di blog ini rasanya susah nyempetinnya. Apalagi kurangnya inspirasi buat nulis, jadi faktor utama buat aku semakin nggak sempet buat nulis. Yang ada dipikiran ya cuma paper,paper,paper. Untungnya sih, hari ini kuliah semester 6-ku udah libur. Jadi bisa lebih banyak waktu buat menyalurkan hobi yang satu ini sebelum kembali lagi ke Semarang buat job training :”). Doakan semoga sukses ya gengs.

Akhir-akhir ini, khususnya di social media instagram, banyak banget kasus-kasus yang mencuat dan jadi viral di instagram. Banyak banget deh, mulai dari kasusnya bule yang marah-marah karena menganggap di mushola terdapat karaoke yang mengusik dia, sampai kasus yang sangat sedang disorot minggu-minggu ini yaitu sexual harasment yang terjadi pada salah satu influencer yang sangat menginspirasi yaitu Gita Savitri Devi, dan juga penyanyi dangdut kenamaan Indonesia, yang selalu dielu-elukan, Via Vallen.

* DISCLAIMER *

aku nggak akan bahas kasus mereka detail dan out of topic, karena nanti akan menggiring opini baru. Aku cuma mau bahas soal sexual harassmentnya.

Di kasus mereka berdua, aku sebagai warganet (red-netizen) melihat kasus dan kejadian yang menimpa mereka sama-sama lewat direct message instagram. Seperti yang udah diketahui, dari mbak gita ia mendapat dm instagram yang isinya tidak pantas, bahkan sampai mengajak berhubungan seksual. Hal tersebut juga dialami mbak via vallen, dia juga dapet kata-kata yang nggak pantas lewat dm instagram. Yang membedakan kasus mereka yaitu pelakunya. Menurut penelusuranku dan hasil stalking-stalking sana sini , dikasus mbak Gita, pelakunya ini menggunakan fake account yang unfortunately, dia pakai profil picture orang lain. Mbak Gitapun lewat instagram storynya mengklarifikasi bahwa yang ada di profil picture akun bodong tersebut bukanlah pelaku sebenarnya. Iapun meminta bantuan netizen yang jago IT untuk men-track IP address si pelaku. Dan hasilnya ? IP addressnya si pelaku itu dari irlandia atau mana gitu aku lupa (correct me if i’m wrong). Berbeda dengan kasus mbak Gita, mbak Via Vallen justru mendapat dm instagram tersebut dari seseorang yang berprofesi sebagai pesepak bola. Spekulasi bermunculan hingga ke twitter, lantaran netizen Indonesia yang sangat cerdas mulai menghubung-hubungkan orang yang mengirimkan DM instagram dengan salah satu pesepak bola Indonesia disuatu klub ternama di Jakarta. Belum ada klarifikasi secara langsung dari kedua belah pihak, jadi lebih baik kasus kaya gini harusnya ditanggapi cukup serius, karena lagi-lagi korban dari perilaku ini yaitu perempuan.

Seperti yang kita tau, sexual harassment atau pelecehan seksual adalah suatu tindakan yang sangat tercela. Banyaknya kasus ini membuat aku sebagai wanita geleng-geleng kepala lagi, dan lagi lagi aku harus nulis topik ini lagi dari yang sebelumnya pernah aku tulis disini. Karena kasus ini baik yang pelecehannya secara langsung, kini mulai menjalar ke dunia maya yang memang sehari-hari kita lakukan. Pelecehan seksual secara verbal, bukanlah masalah sepele. Karena sebenernya banyak yang bilang “alah cuma gitu doang, nggak perlu digubris.”. Tapi kalo menurutku pelecehan melalui verbal justru bisa ngebuat korban ini makin tertekan. Karena diluar sana terdapat orang yang dengan “isengnya” mempermainkan gender tanpa berpikir impact yang dirasain si korban ini. Si pelaku cuma bisa berlindung dibalik layar terpanya, dan seenak jidat mengajak berhubungan seksual atau sekedar mengomentari bentuk tubuh yang sebenarnya nggak perlu disinggung, karena kita tau body shaming merupakan tindakan yang sepatutnya dihindari. Selain dapat menyebabkan mental down, tindakan pelecehan serta body shaming yang dialami ini bisa menjadikan seseorang nggak percaya diri, bahkan parahnya merasa hina.

Perilaku sexual harassment khususnya di media social sangatlah berbahaya, apalagi kalau si pelaku justru terus menerus mengirimi direct message kepada korban. Hal tersebut bisa menimbulkan teror, dan ketakutan berkepanjangan. Sebagai wanita, tindakan mbak Gita dan mbak Via Vallen dalam mem-blow up kasusnya ini di social media mereka merupakan suatu tindakan yang perlu diapresiasi. Karena apa? mereka sudah berani speak up mengenai tindakan yang mereka alami, dan sebagai netizen yang bijak, kita harus melihat kasus ini merupakan kasus yang sangat harus dibasmi, karena yang jelas akan merugikan mental si korban. Ibaratnya, waktu ada cyber bullying saja kita udah kepikiran setengah mati, apalagi kalo kita didm dengan kata-kata yang nggak pantes, makin kepikiran lagi dong. Lebih-lebih urusan gender yang sering diperdebatkan, mengingat yang menjadi korban kebanyakan perempuan. Hal ini sebenernya bisa dihindari dengan nggak meng-allow akun-akun yang kurang meyakinkan. Lebih selektif kalo itu 2nd account atau account yang emang meresahkan. Tapi ya perilaku tersebut memang sangat sulit dideteksi kapan terjadi, karena pelaku bisa kapan saja mengirimkan messagenya tanpa memandang waktu.

Dari kasus tersebut, semoga tidak ada lagi kasus-kasus lain yang mencuat, serta timbul kesadaran bagi pelaku atau siapapun diluar sana, bahwa kita nggak boleh “iseng” sembarangan melontarkan kata-kata yang nggak pantas, karena kalau si korban ga terima bisa tetep dipidana loh. Jadi, tetap waspada. 🙂

 

Continue Reading

April Story

Hello April. Akhirnya ketemu lagi sama bulan ke empat ditahun 2018 ini. Sekarang udah tanggal menuju tengah april. Its not to late for tell a lil story for this april. Anyway, dibulan april ini aku masih seperti bulan-bulan sebelumnya yaitu sibuk dengan segala macam rutinitas perkuliahan. Alhamdulillah, sekarang udah nggak ikut organisasi lagi, jadinya lebih nyantai dan bisa melakukan apapun yang aku mau tanpa terikat kegiatan organisasi. Seneng? Ya jelaslah! Aku bisa tidur nyenyak bisa pulang kerumah tanpa mikirin tugas organisasi. Bisa juga ngerjain tugas, nonton film, main sepuasnya. Tapi apakah ada yang hilang? Tentu saja iya. Yang hilang itu kesibukan. Jadi gampang gabut dikos, kadang nggak tau harus ngapain kalau nggak ada tugas. Ya ujung-ujungnya nulis lagi deh, membangun mood yang masih sering berubah-ubah makanya jeda waktu antara recent blog dengan yag ini agak lama, karena maklum wanita coy, segalanya tidak terprediksi.

Jadi, apa yang bakal aku bahas di april story ini ? Sejujurnya nggak ada dan bingung. Karena untuk cari topik yang bermutu butuh pikiran ekstra dan engga sembarang kata bisa ditulis. Sebenernya april story ini lebih mau kecurhat atau random talks sih. Oh, dimulai dari yang ini aja sih. Beberapa hari ini aku dan salah satu temanku lagi merasa disgust sama omongan orang-orang sekitar kami yang kesannya “mengurusi” kehidupan si temenku yang satu ini. Si temanku ini sebut saja mawar (hahaha ngakak. LOL), dia emang baru saja terkena masalah yang menurutku sebuah privasi yang cuma ia ceritain ke orang-orang terdekatnya aja. Tapi nggak tau kenapa, si Mawar ini kecewa kok ceritanya dia ini menjalar menyebar kemana mana, sampe jadi bahasan tiap orang, sampai-sampai puncaknya tiap ada orang yang ketemu mawar ini selalu bahas itu didepan dia. Apalagi muncul spekulasi-spekulasi dari orang-orang yang sebenernya nggak tau inti cerita dan masalahnya gimana, jadi bikin cerita baru yang sebenernya, asli, itu nggak bener, malah justru menimbulkan fitnah.  Jadilah si Mawar ini merasa terganggu, dan aku sebagai teman terdekatnya ngerasa ikut terganggu juga dan rasanya pengen bilang ke orang-orang itu “WOY KALIAN GA NGERTI CERITA ASLINYA, GAUSAH NGURUSIN NAPA.” Tapi sumpah, itu emang udah annoying banget sih. Aku kalo jadi Mawar ya pasti bawaannya mau emosi dan kesel aja. Secara kenapa orang-orang itu sibuk ngomongin orang lain dan melebih-lebihkan bahkan ngomonginnya bukan ke satu orang aja tapi secara berantai. Yang tadinya si Mawar ini pengen orang terdekatnya aja yang tau masalahnya eh malah jadi konsumsi publik. So, why?

Orang-orang macam ini tuh, sudah terjebak dalam lingkaran setan. Hobinya ngomongin orang-orang dan disebarkan secara berantai, nggak tau deh kapan kelarnya. Bahkan untuk menjaga rahasia atau menceritakan suau rahasia ke orang-orang ini mungkin ga akan bisa karena nanti mereka bakal nyebarin ke orang lain, saling julid menjulid, nyebar deh. Even temannya sendiripun jadi bahan omongan, dan kejadian seperti ini sudah aku temuin dari jaman SMP, SMA, Eh kok ya kuliah ketemu lagi. Ampun deh.  Sebenernya pengennya dijauhkan dari orang-orang yang seperti ini. Ayolah kita bahas yang bukan orang aja, boleh ngomongin orang, tapi yang jauh, jangan temen terdekat kita. Ngomonginnya juga bagusnya jangan jeleknya. Jangan kalau temen kita galak dikit diomongin, Menor dikit diomongin, gendutan, kurusan diomongan. Make yourself care with your self. Keep your mind don’t care. Untuk Mawar, (Kalau baca nih ya) aku sebagai temenmu cuma bisa bilang “sabar”. Sebagai korban perjulidan orang-orang disekelilingmu kamu pasti dapet pahala kok, pasti.

***

Beralih ke random talks lain, mungkin april favorite kali ya? April favorite, sekarang lagi suka sama lagunya Adera yang Muara. Lagunya sih emang udah lama banget, tapi masih enak didenger insyaallah. Sampe-sampe ni aku ngecover lagu ini, yang bisa didengerin di sini. 

Terus untuk hal lain sepertinya belum ada yang menjadi favorit, karena orangnya memang tidak terlalu suka mendewakan sesuatu terus nyampe suka banget. Paling lagi suka mengembangkan hobi-hobi yang sebenernya termasuk nggak jelas kaya kemarin dapet inspirasi dari si Mawar ini, katanya nyuruh aku bikin akun instagram khusus kontennya foto-foto karena aku emang suka foto-foto pemandangan atau apapun yang bisa disnap. Terbukti kan aku tidak narsis, karena leih sering moto ketimbang difoto. Mengembangkan hobi baru itu perlu lho gaes. Siapa tau hobi ini tu merupakan bakat terpendam yang baru kita ketahui dan bisa jadi duit. hehehe

Harapan untuk bulan april ini sih singkat. Semoga tidak menjadi orang julid. Mungkin itu aja sih, sekian, dan terimakasih. Wassalamualaikum wr.wb. 🙂

Continue Reading

The Purpose of Your Life

Pagi ini terbangun agak terlambat dari jam sholat subuh. Mestinya dalam mengawali hari bagi kalian yang muslim tidak boleh sekalipun tidak mengawali hari dengan sholat subuh. Sholat subuh itu utama, dan wajib bagi kita semua. Salah satu kewajiban kita untuk menunaikannya agar hari-hari kita ini berjalan lancar serta bermanfaat bagi sekitar. Sejenak teringat, ini saatnya menulis kembali, dengan tujuan agar tulisanku bermanfaat bagi sekitar kelak. Dari judulnya saja sudah kelihatan, tujuan hidup. Pertanyaan yang dari semenjak berusia 17 tahun sudah aku tanyakan berulang-ulang dalam diriku sendiri. Kalau dulu waktu umur segitu tujuan hidupmu apa sih ? Ya untuk lulus SMA dengan nilai UN tinggi terus masuk Perguruan Tinggi Negeri dan diterima dijurusan favorit deh. Itu tujuanku pada waktu itu.

Sekarang usiaku sudah menginjak 21 tahun yang tahun ini akan beranjak ke 22 tahun. Jadi apa tujuan hidupku selanjutnya ? Aku akan menjawab lulus tepat waktu, bekerja, membahagiakan orang tua, menikah, punya anak, dll. Tapi apa sih sebenernya tujuan hidupmu ada didunia ini? Pertanyaan itu akan dijawab oleh diri kalian masing-masing. Setiap orang memiliki tujuan yang berbeda dalam hidupnya. Ada yang pada saat umur belasan waktu lagi seneng-senengnya pacaran sama satu orang terus bilang “goals dalam hidup aku itu bisa menikah sama kamu.” Tapi akhirnya mereka putus dan tujuan itu hanya sekedar tujuan nggak bisa dibuktikan.

Mencari tujuan dalam hidup itu perkara susah-susah gampang. Semua tujuan dalam hidup kita itu terbagi dalam berbagai fase. Fase anak-anak, fase remaja, fase dewasa hingga sudah menjadi orang tua sekaligus panutan bagi anak cucu kita kelak. Mencari tujuan dalam hidup itu layaknya mencari jati diri kita dalam kehidupan ini. Jika kita sudah menemukan siapa kita sesungguhnya, tujuan itu akan terbersit dengan sendirinya. Apa latar belakang kita lalu kita terlahir dengan realitas yang seperti apa, tujuan itu pasti akan hadir. Entah tujuan untuk diri kita sendiri, semisal lulus atau menikah atau membahagiakan orang tua atau yang lainnya. Semua itu kembali ke diri kita masing-masing, tidak bisa di direct maupun dipaksa atau malahan ikut-ikutan teman-teman yang lain.

Menjadi manusia yang bertujuan hidup dan memiliki life goals merupakan sesuatu yang sangat penting. Kita harus punya target-target beberapa tahun kedepan, rencana-rencana apa yang ingin kita capai. Bagaimana kita melalui hidup dengan cara kita yang lama, bagaimana untuk merubah cara hidup kita. Bagaimana untuk membangun hubungan dengan orang lain dan merencanakan hidup dengannya. Bagaimana cara kita membahagiakan kedua orang tua kita dengan selalu tekun untuk mencapai life goals tersebut. Itu kembali ke jati diri kita masing-masing dan masing-masing orang memiliki caranya sendiri untuk mewujudkannya.

Jika kamu merasa di umurmu yang akan beranjak lebih dari 20 tahun dan belum bisa berpikir maju kedepan, belum tahu mau bagaimana kamu kedepannya, belum punya rencana apa-apa,berarti ada yang salah dengan dirimu. Ada yang salah dengan cara pandangmu yang terkesan masih ingin “main-main” dengan hidup ini. Mulai tentukan tujuan, jangan sulitkan orang tua lewat sikapmu yang terkesan tidak berterimakasih. Mulailah bahagiakan mereka dari sekarang, mulailah memulai hubungan dengan penuh komitmen, mulailah mencari peluang dan fokuslah pada pendidikan lalu pekerjaan. Lalu tanyakan pada dirimu sendiri “What is the purpose of my life?”

🙂

Continue Reading

The Hectic Day

It’s march. Di sela sela kesibukan kuliah, aku menyempatkan waktu untuk blogging lagi. Beberapa hari belakangan setelah kembalinya aku ke dunia perkuliahan yang fana ini, setiap hari rasanya ga ada hentinya buka laptop, cari cari jurnal, skripsi, dan judul buat penelitian. Sekarang aku udah semester 6, harus mulai nentuin mau ambil topik apa dan kaya gimana. Bener bener seminggu kemarin mata ga bisa lepas dari layar terpa. Otak selalu muter nyari judul yang tepat. Badan gabisa leyeh-leyeh sebentar, pokoknya hectic bener-bener hectic. Kalo udah kaya gini rasanya ingin balik liburan lagi.

Masa perkuliahan emang sesuatu yang aku kangenin waktu 2 bulan liburan kemarin. Kangen suasana bolak balik dari kampus  kekos. Kangen suasana kelas, ketemu banyak orang. Karena dirumah, ya aku cuma ketemu keluargaku. Ketemu temen sangat sangat jarang.  Jadinya kangen aja bisa berinteraksi dengan orang lain selain keluarga. Pokoknya rindu suasana hectic, dimana harus bangun pagi, harus bikin sarapan, harus berangkat kekampus. Tapi manusia emang ga pernah bersyukur.  Baru aja kangen suasana hectic, waktu udah kejadian hecticnya, eh capek sendiri. Akhirnya ngeluh, dan nulis kaya gini..

Semester 6. Merupakan tahun ketiga dalam fase perkuliahanku. Tahun 2015, rasanya baru aja beberapa tahun yang lalu, tapi ternyata ya udah lama juga. Ga kerasa aku tiba dititik dimana aku harus selalu fokus, Fokus dalam artian rajin untuk maju, atau bermalas malasan untuk terus mundur. Semua pilihan ada di tanganku. Semua orang yang berkuliah, pasti akan tiba dititik ini. Fase ini akan segera datang cepat atau lambat. Cepat atau lambat perjalanan kita dimulai dari semester ini, dan hasilnya adalah kesuksesan sesaat yang sebenernya hanya merupakan pengantar kita ke dunia yang sebenarnya, yaitu pekerjaan. Kita masih harus struggle lagi ngehadapin fase selanjutnya yang jauh, bahkan lebih sulit untuk dihadapi.

Semester 6, selain hectic, pada akhirnya di semester ini kita ga akan lagi bergantung pada teman. Seseorang pernah bilang, disemester 1,2,3,4,5 kita sibuk nyari teman sebanyak-banyaknya, entah diperkuliahan, atau organisasi. Tapi disemester ini, masing-masing individu mulai berjalan sendiri-sendiri. Mengurus hidupnya sendiri, mengurus kuliahnya sendiri, keluar dari zona nyaman masing-masing. Menghadapi fase awkward dan uncomfortable. Ada yang bertahan di zona nyamannya dan menjalani aktivitas yang lempeng-lempeng dan gitu gitu aja. Ada yang mencoba hal baru yang bukan skillnya dan merasa tertantang, lalu berkembang. It’s choice, we just make decision to our self and the purpose is to make our grow. 

Disela-sela tugas yang membludak , seperti proposal penelitian dan lain-lain, aku nyempetin dan ngeluangin waktu sedikit buat blogging. Kenapa?  cuz i need some refreshing my brain, dan mencoba untuk curhat serta mengutarakan apa yang ada di pikiran selama hampir sebulan kuliah lagi.  Sebenernya ngeluh ya ga guna si. Yang penting sih, nikmati fase ini. Fase yang hanya akan datang sekali dalam hidupmu bagi yang berkuliah. Fase ini membuat kita belajar. Belajar menghargai waktu, belajar menghargai pikiran, belajar menghargai orang tua kita yang mati-matian mencari uang untuk kita tetep bisa stay dan meraih apa yang kita cita-citakan, fase dimana diri sendiri dan segala ide kreatif merupakan sesuatu yang berharga, fase dimana kita belajar bahwa untuk mendapat gelar dan membuat suatu karya bukanlah hal yang mudah, butuh ke strugglean tingkat tinggi demi meraihnya. Mau mundur atau maju? Pilihanmu.

Pendek, tapi semoga berarti untuk memahami eksistensi kita didunia perkuliahan. 🙂

Continue Reading

Menjadi Seorang Wanita

Oke. Malem ini, ngumpulin niat buat nulis lagi , berharap bisa rutin ngisi postingan diblog ini. Walaupun aku tau yang bakal baca juga ga banyak. Tapi yaudahlah ya, jadikan blog ini diaryku tempat untuk mengutarakan apa isi yang ada di otakku lagi. Nulisnya sengaja pake hape, karena kalo pake laptop takut diintip, karena sebenernya aku paling gasuka bikin sesuatu tapi orang lain tau , terus dicengin, terus ga jadi bikin deh. Anyway, kemarin sempet sedih karena hape yang aku buat nulis postingan ini rusak. Rusaknya simpel, cuma sistemnya doang. Mungkin hape ini lelah kali ya. Padahal ibarat kata, hape ini dah nyawa banget buat aku. Nangis nangislah aku kemarin dua hari gara si gawai kesayangan ini rusak. Ga bisa ngapa ngapain, walau sebenernya walau hapenya bener pun , juga jarang kepake, kecuali buat scroll twitter atau chat. Btw, sekarang aku udah jarang banget main instagram. Alasannya kenapa? Ya karena males aja. Males dengan riya riya insta story, males scroll dan urusin atau liatin orang, dan yang paling utama si males beli kuota, karena liburan kantong kering gaes. Buat beli kuota aja, rasanya kaya asma, sesek , seret. ;(. Hmm, pokoknya males instagraman. Ngerasa jenuh aja gitu lho tiap hari ngeliatin orang makan mulu, atau selfie boomerang mulu, atau pamer liburan kemana gitu. Maklum, anak rumahan jadinya gini , kesannya iri dengki.
Hanya bisa memandang sosial media, lalu jenuh, lalu sekarang sering matiin hape, karena takut hape ngehang lagi. Hehehe. 
Kita emang udah kaya diperbudak smartphone, jaman sekarang kalau ga ada gawai rasanya kaya hidup ga hidup. Gabisa gitu , sehari tanpa scroll. Sering keinget lagunya vierra yg lupa judulnya tapi liriknya gini “aku tak bisa hidup tanpa handphone, dan dirimu dan dirimu..” dan bener kata orang di twitter, vierra emang futuristic band yang nyiptain lagu yang akhirnya kejadian pada zaman milenial ini. Ga dipungkiri, hape udah separuh jiwa aku. Mungkin tanpa hapepun, aku ga bisa nulis kaya sekarang ini. Ga bisa belanja,ga bisa kepo, ga bisa scroll , ga bisa gosip, ga bisa kepo orang lain, ya begitulah wanita. Hidupnya serba scroll.
Lewat scroll, scroll tempo hari. Di instagram kemarin, aku nemuin sebuah video viral beberapa hari ini. Videonya itu berisi seorang pasien yang dilecehkan oleh seorang perawat disebuah rumah sakit disurabaya. Pasien ini baru aja menjalani operasi pembersihan kandungan, dan waktu kejadian dia lagi dipindahin diruang pemulihan. Si pasien ini ngaku kalo dia emang dalam kondisi setengah sadar. Antara merem melek gitu katanya. Nah singkat cerita , si perawat yang anter si pasien ini keruangan , melakukan pelecehan seksual terhadap si pasien wanita ini. Dalam video ini si pasien nyuruh si perawat ini ngaku kalo dia ngelakuin tindakan yang menyalahi kode etiknya sebagai perawat. Si perawatpun terlihat divideo mengaku khilaf dan akhirnya minta maaf. Dari kejadian tersebut akhirnya siperawat ini dituntut deh. Hmm, kejadian kaya gini di indonesia emang dah banyak banget dan lagi lagi korbannya adalah wanita. Why? Kenapa selalu wanita? Kemarin juga sempet denger kalo ada pengendara motor juga melecehkan seorang wanita dijalan hanya karena iseng. Kalo yang ini aku ga bisa terima alesannya sih. Why? Kenapa iseng? Kenapa ga bilang kalo kebawa hawa nafsu sih? Dimana otak mereka sebenernya. Mereka, si pelaku ini bener bener ngelampiasin ke orang yang ga mereka kenal dan ujung ujungnya si korban ini akhirnya trauma, lapor kepolisi. Si pelaku? Belum tentu jera. Si korban? Dia bakal trauma seumur hidup. Aku sebagai wanita ga pernah terima dengan segala kasus yang ada. Indonesia bener bener darurat masalah gini. Bener bener wanita yang selalu menjadi korban. Dari hal kecil deh, wanita sering banget digodain, jadi korban flirting dijalan. Pria? Ga pernah tu denger cewek godain cowok dijalan. Otak dan hati nurani mereka yang menjadi pelaku ini kemana gitu lho. Kenapa mereka selalu nggedein nafsu timbang otak, dan logika. Kasarnya, otak mereka bener bener dongkol sedongkol dongkolnya. Apa ya ga mikir ibu, pacar, atau istri mereka kalo digituin. Apa mereka cuma cari kepuasan semata? Kalo orang yang otak dan logika jalan si ga bakal kepikiran kaya gini kaya gini. Yang kepikiran kaya gini , dan ngelakuin dengan orang yang ga dikenal, berarti ga sehat dan waras!. Wanita bukan bahan buat ginian. Wanita itu ya sama aja ibu kalian. Ga habis pikir si kenapa si pelaku ini ga inget ibunya pas ngelakuin kaya gitu. Ga berpikir, betapa sedihnya hati seorang wanita yang melahirkan mereka kalo tau anaknya berkelakuan seperti binatang, tanpa logika. 
Menjadi seorang wanita itu sungguh tidak mudah. Kami memang mungkin tidak dikaruniai badan yang kuat, dan tanggung jawab kami tidak sebesar kaum laki laki. Tapi kami patut dihargai secara lahiriah dan batiniah. Karena sesungguhnya para lelaki juga berawal dari kami. Wanita.
Singkat kata, aku turut prihatin dengan segala kejadian yang terjadi belakangan ini. Semoga ditahun ini ,makin berkurang bahkan ga ada satupun kasus kaya gini lagi. Semoga hak-hak wanita serta psikologis wanita yang menjadi korban bisa dipenuhi dan diobati. Amin. 
Continue Reading

Finding The “One”

Januari. Jadi bulan pertama ditahun ini yang dijalani pada awal-awal tahun ini. Bulan ini seakan-akan menjadi awal buat kita untuk memulai segalanya. Baik dalam pendidikan , karir, maupun mungkin memulai sesuatu yang produktif, agar hari – hari kita ditahun 2018 ini ga sia-sia. Planning-planning buat beberapa bulan kedepanpun mulai dibuat. Banyak hal yang ingin dilakukan ditahun ini. Contoh, memulai perkuliahan dengan lebih rajin, atau lebih giat belajar, lebih bisa mengembangkan diri menjadi lebih produktif, atau mengerjakan sesuatu yang belum pernah dikerjakan sebelumnya. Semua bergantung pada diri kita masing-masing. Tapi dari segelintir planning tentang kehidupan sosial kita, masih banyak segelintir temen aku yang memiliki planning yang emang selalu terulang tiap tahunnya. Planning tersebut adalah “Found someone to the rest of them life”.  
Ga sedikit temen temen zaman SMA yang curhat masalah ini. Ditahun ini mereka ingin menemukan seseorang yang emang mereka tunggu sejak lama, dan kebanyakan dari mereka pengennya ga ganti ganti lagi. Ada juga temen aku yang sudah planning tahun ini akan memulai hidup baru bersama pasangannya alias menikah. Berasa makin tua aja ni badan. Selain dua diatas, juga masih ada orang yang udah punya pasangan, tapi ga berniat melangkah kemana mana. Masih stuck dengan status mereka yang “jalani dulu aja”. Dan hal tersebut masih kejadian di diri aku sendiri  yang ga tau mau kemana, karena kita masih sama sama kuliah , masih sama sama ingin mengejar mimpi dalam pendidikan,karir, serta masih pingin seneng seneng dan ngebahagiain orang tua dulu. Dari 3 cerita yang berbeda ini, aku mau bahas satu satu, karena ini bener-bener kejadian dan sangat related dengan kehidupan semua orang. 
Soal cerita yang pertama, yang tahun ini masih sendiri atau betah menjomblo. Buat aku sendiri yang melihat gimana temen temen aku yang masih sendiri ini curhat, sebenernya mereka ga pengen sendiri gengs, mereka cuma belum nemuin yang pas dan klik aja dengan kepribadian mereka. Mereka itu menurutku masih mematok kriteria buat yang bakal jadi pasangannya kelak. Selain kriteria, rasa trauma buat memulai juga jadi pemicu makanya mereka sendiri terus,galau terus. Kenapa aku bisa bilang kaya gini? Karena aku melihat sendiri, orang-orang yang seperti ini terkadang memimpikan pasangam yang ideal buat mereka. Tetapi idealnya itu yang kadang ga realistis. Aku waktu ditanya kenapa ga cari lagi, kenapa ga cari lebih tua atau lebih mapan? Ya karena aku ga pernah mematok atau membuat list seseorang yang mau jadi teman hidupku. Ya pilih pilih suatu hal yang wajar, tetapi kalo orang itu bisa ngebuat kita menjadi lebih positif walaupun dia ga memenuhi kriteria yang istilahnya perfect, ya kenapa ga ? Toh ya kita yang menjalani. Kita yang memilih. Kalo ada temen curhat soal gini, yang aku bilang cuma satu, carilah,beranilah memulai sebelum dijodohkan. Parah ga tuh saking ga bisa nyari sendiri akhirnya dijodohin. Siapa yang mau coba ? . Selain itu, kalo menurut aku pribadi, kalo emang sekarang ngerasa masih sendiri, gausah kebanyakan kriteria cari pasangan deh. Contoh, pengen punya pasangan yang ganteng, tajir,mapan, berkharisma bla bla bla atau cantik, ga neko neko, ga egois ga ini ga itu. Semua itu cuma ada di diri Fahri AAC dan tokoh difilm doang. Hahaha. Semakin kalian mematok dan mencari pasangan hanya dengan terpaku dengan kriteria kalian, semakin makin makin ga bakal dapet tuh yang namanya pasangan. Karena apa? Cinta itu tanpa syarat men, yang akan datang adalah yang membuat diri kita nyaman, dan insyaallah kalo udah nyaman kalian bakal nemuin ” Your The One” 
Beralih ke kisah selanjutnya, yang sebenernya bikin baper baik yang belum punya pasangan ataupun yang udah punya tapi belum mau kemana mana. Orang orang atau temen temen disekitarmu yang udah menemukan belahan jiwanya dan sebentar lagi bakal memulai hidup yang baru alias nikah. Baru lamaran aja baper. Ga dipungkiri, temen aku yang satu ini, emang melalui suatu perjalanan yang cukup melelahkan. Mereka berkutat pada pencarian bertahun tahun yang pada akhirnya mengantarkan mereka pada seseorang yang mengerti mereka seutuhnya. Dari kisah temenku yang satu ini, dia ga pernah nyangka bakal ketemu calon teman hidupnya ini. Dia juga ga pernah ngerasa orang ini adalah kriterianya. Pertemuan mereka juga ga pernah disengaja. Pokoknya berawal dari hal kecil kaya hubungan penjual dan pembeli, eh malah keterusan sampe mau nikah. Ga ada yang nyangka kan ? . Diapun ga pernah tau orang ini sebelumnya, bener bener rasanya ga akan ada garis yang bakal mempertemukan mereka. Berangkat dari patah hati masa lalu , temenku ini malah nemuin yang bikin diri dia nyaman,yang sangat sangat mengerti dia. Hal ini sangat membuktikan bahwa cinta itu tanpa syarat, dan dia emang udah bener bener menemukan “The One”nya. 
Aku ? Sampai sekarang ya masih berprinsip pada statement jalani dulu aja. Karena menurutku pribadi , aku udah nemuin orang yang pas dan nyaman dihidup aku. Udah nemuin temen hidup yang bisa diajak berdiskusi dan diajak kemana mana tanpa dia ngeluh. Aku cuma tinggal bergantung pada waktu dan Allah yang mau mengarahkan kemana. Intinya mau menjalani yang sudah ada dan tinggal menunggu waktu yang tepat. Tepat setelah lulus kuliah, bekerja, membahagiakan orang tua. 
Finding the one, bukan hal yang mudah sebenernya bagi sebagian orang. Tapi menemukan yang pas adalah anugerah bagi orang orang yang telah mendapatkannya. Semoga kita bisa segera mendapatkan seseorang yang kita maksud. Amin.
Continue Reading

Body positivity dan Resolusi 2018

Tahun baru, harapan baru buat kita. Rasanya baru kemarin kita memulai 2017 sekarang kita akan memulai 2018. Kalo kata anak jaman sekarang 1/365. Emang ga tau kenapa, makin tua, waktu berjalan makin cepet aja. Kita ga pernah sadar bahwa dalam 1 tahun kemarin banyak hal hal yang terjadi. Entah kejadian seneng, sedih, duka, ataupun berita bahagia. Setahun kemarin ngebuat kita flashback bahwa dalam satu tahun ini, kita belajar sesuatu. Begitu banyak pelajaran yang aku ambil waktu 2017 kemarin. Saking banyaknya sampai sampai ga bisa diceritain satu satu. Intinya 2017 ini bener bener ngasih pelajaran berharga buat aku secara pribadi. Banyak hikmah yang aku petik selama 365 hari kemarin. Dari mulai pendidikan, naik turun ip, masalah keuangan, masalah organisasi yang bikin aku pusing setengah mati setahun kemarin, dan realize bahwa semuanya udah berakhir tu membuatku lega. Lega karena berarti 1 tugasku didunia sudah selesai dan alhamdulillah mendapat pengalaman yang sangat berharga, dan insyaallah bakalan berguna buat kehidupanku selanjutnya. Beralih dari kehidupan pribadi, di Indonesia sendiri bahkan dunia banyak banget peristiwa peristiwa yang emang ngehits ditahun 2017 lalu. Mulai dari terpilihnya Donald Trump, segala kontroversinya, Kasus Setya Novanto , Rohingnya, dan yang terakhir salah satu artis yang namanya ngehits lagi di tahun 2017 karena kasusnya. Tau kan siapa? Apalagi sekarang lagi ngehits banget akun akun gosip yang bertebaran di media sosial, yang membuat agak sedikit “penyakit” bagi manusia masa kini. Ga munafik, aku dulu juga penikmat akun gosip tersebut. Tapi gimana ya, makin hari makin sumpek aja gitu lho, ngeliatin kehidupan orang lain yang sebenernya buat aku pribadi itu ga penting. Ya ga si? Mungkin banyak yang setuju atau ga, tapi aku ngerasa ga seharusnya sih kehidupan seseorang itu diekspose dan dihakimi rame-rame. Mereka punya kehidupan pribadi yang emang pengennya mereka doang yang tau. Kadang menjadi seseorang yang tertutup itu lebih nyaman guys, ketimbang orang yang banyak bicara yang pengen kehidupannya diketahui orang banyak. Disisi ini, aku ga merasa paling benar lho ya. Hanya mengutarakan apa yang bener bagi diriku sendiri.
2017 emang udah berakhir. 2018 emang baru aja dimulai. Hari kelima nih coy. Kalo kata aku ini nulis blog pertama di tahun 2018. hahahaha biar kaya yang lain. Biar 2018nya ga gagal, biasanya ada resolusi resolusi nih. Sebelum ngomongin resolusi, aku mau ngomongin soal body positivity yang ada hubungannya sama resolusi tahun tahun lalu dan sebelumnya. Mungkin untuk kalian yang membaca ini dan ngerasa masih kurang dengan apa yang ada ditubuh kalian, please hentikan segera. Banyak cewek cewek diluar sana yang kadang ga bisa menghargai diri sendiri, yang ujung ujungnyapun ga dihargain orang lain, termasuk aku. Emang sih, menjadi perfect itu dambaan semua wanita. Contoh nih, punya tubuh yang ideal, kulit putih, mulus, dan ga jerawatan, siapa sih yang ga pengen kaya gitu? Akupun pengen. Dan terkadang karena kekurangan kekurangan yang ada tersebut menjadikan aku pribadi kadang ngaca dan bilang ke diri sendiri “Kok aku jelek banget si?” , lalu berimbas ke stalk stalk orang orang yang menurutku memang “terlahir cantik” dan kaya nge-imitate segala gayanya dia, kaya contohnya gaya pake krudungnya, gaya pake bajunya, nyampe beli apa yang dia pake. Dan itu kejadian buat aku si belakangan ini. Akhirnya karena imitate itu , hasil dari effort aku untuk tampil seperti yang aku pengen adalah 0. Malah makin ngerasa ga pantes, dan emang gaya itu ga cocok. Makin membodoh-bodohkan diri sendiri, kenapa dari awal ga be your self. Bukannya menampilkan the best version of yours, alih alih malah meniru orang lain yang sebenernya berbeda dengan kita. Yang punya versi lain yang unik dari dirinya yang ga bisa kita tiru dengan mudah. Masing-masing pribadi punya berbagai keunikan, tinggal kitanya aja yang mencoba mencari mana keunikan yang harus diperlihatkan atau tidak. 
Dari hal tersebut ngebuat aku jadi sadar, bahwa membangun konsep diri yang positif adalah hal yang penting. Ga perlu peduliin apa kata orang , yang penting kita menampilkan apa yang kita mau dan apa yang kita anggap baik. Body positivity menjadi satu resolusi yang sebenernya berpengaruh besar buat diri kita. Ga cuma ditahun ini, ditahun depanpun resolusi kaya gini harus selalu ada. Mungkin kebanyakan resolusi kita itu pengen punya apa apa yang baru, bisa melakukan sesuatu yang baru, tapi menurutku yang terpenting adalah body postivity itu, yang bisa membuat kita meraih segala hal yang kita mau. Karena segala usaha yang ingin kita raih berasal dari diri kita. Motivasi yang tertanam, melihat segala sesuatu secara positif. Itulah akar yang membuat kita selalu percaya diri dalam menghadapi segala hal yang ada didepan.
365 hari di 2018 yang udah ada didepan mata ini, semoga bisa digunakan dengan sebaik-baiknya. Diisi dengan perbuatan dan kegiatan yang insyaallah bermanfaat buat kita. Jangan pernah sia-siakan waktu. Aku ge mencoba menggurui, tapi sama sama belajar karena kita sama sama lifetime learner. Happy New Year! 🙂
Continue Reading